Fiksi Umum

Tampilan:
Tampil:
Urut Berdasarkan:

Reda Gaudiamo, Soca Sobitha

Cecillia Hidayat (Illustrator)

Aku, Meps, dan Beps

 

"Aku panggil emakku Meps dan bapakku Beps. Kenapa? Hihihi, aku nggak tahu. Tahu-tahu aku sudah panggil mereka begitu.

Meps rambutnya pendek banget.
Kata Beps, setiap minggu Meps mesti cukur.
Kalau tidak, kesaktiannya hilang.
Apa kesaktian Meps? Nanti aku ceritakan!"

. . .
Rp. 55.000

Jorge Luis Boges

Wawan Kurniawan (Penerjemah)

Kitab Pasir (The Book of Sand)

 

“Borges, salah satu seniman paling luar biasa di zaman kita” – Mario Vargas Llosa.

Kitab Pasir merupakan karya terakhir Borges yang diterbitkan. Memuat tiga belas cerpen, yang menurut Borges, ‘variasi dari berbagai tema faforit … menggabungkan gaya yang sederhana dan menggunakan Bahasa sehari-hari dengan plot yang fantastis’.

Jorge Luis Borges (24 Agustus 1899 – 14 Juni 1986) adalah seorang penulis Argentina yang dianggap salah satu tokoh sastra terbesar dari abad 20. Lebih dikenal sebagai penulis cerita pendek dan esai fiktif, Borges juga seorang penyiar, kritikus, dan penerjemah. Dia mennggal di Jenewa, Swiss, pada tahun 1986.

. . .
Rp. 62.000

Koesalah Soebagyo Toer

Gunawan Budi Susanto (Penyunting)

Anekdot Moskow

Catatan ini saya buat sebagai pelengkap catatan saya dalam buku KAMPUS KABELNAYA karena saya anggap hal-hal ini pun perlu saya kemukakan kepada pembaca. Hal-hal ini merupakan pengalaman konkrit, yang apabila tidak dicatat akan hanya hilang dimakan waktu.

Dengan sendirinya timbul pertanyaan: empat puluh tahun jangka waktu yang tidak pendek, apakah hal-hal yang dialami itu tidak sudah dimakan waktu? Memang benar detail-detail bisa jadi hilang dimakan waktu. Namun hal-hal pokok tidak ada. Ia ibarat tonggak-tonggak kilometer yang sepanjang zaman menyatakan: ini lo peristiwa itu. 

Selain itu, masih ada dukungan bahan tertulis. Dan, dukungan ingatan dari teman-teman yang masih hidup pun memperkukuh argumentasi tersebut. Perlu disinggung dalam kaitan ini bahwa diantara 31 orang mahasiswa lulusan pertama tahun 1965 masih ada lima orang yang masih hidup waktu catatan ini saya buat.

Soal keakuratan dalam mencatat dan memberikan keterangan adalah segi yang dimungkinkan. Hal itu termasuk keniscayaan, yang apabila terjadi hanya harus diterima apa adanya.

Catatan saya tutup dengan sejumlah anekdot yang seperti pada setiap bangsa cukup berkembang pula pada orang Rusia. Bisa dirasakan anekdot itu cukup senada dengan anekdot bangsa-bangsa lain, terutama anekdot sesudah keruntuhan Uni Sovyet.

- Koesalah Soebagyo Toer -

. . .
Rp. 50.000

Jaymee Goh and Joice Chng (editors)

The SEA is Ours : Tales of Steampunk Southeast Asia

In The Sea is Ours: Tales of Steampunk Southeast Asia, technological wonder merges with the everyday: children upgrade their fighting spiders with armour and toymakers create punchcard-driven marionettes. The fantastic has always been part of our landscape: large fish lumber across the skies, aswang represent diwata to faraway diplomats, boat people find a new home on the edge of a different dimension. Technology and tradition meld as the people adapt to the changing forces of their world.

Steampunk takes on Southeast Asia in this anthology, infused with the spirits of its diverse peoples, legends, and geography. Delving into local alternate histories, we will introduce you to a dynamic steampunk world quite different from the one you may be familiar with.

. . .
Rp. 105.000

Soni Farid Maulana Ranting Patah

Bagi saya, sebagaimana juga bagi para penyair lainnya, puisi adalah vitamin bagi kehidupan. Sebagai vitamin, tentu saja ia kadang diperlukan dan kadang tidak. Nyatanya dalam kehidupan itu sendiri, kelebihan vitamin bisa bikin sakit juga. Jadi, saya menulis pengalaman puitik itu tidak setiap waktu. Demikian juga saat menikmati karya puisi dari para penyair lainnya.

Kenapa saya menghimpun sejumlah puisi dalam antologi ini dengan judul Ranting Patah? Itu terjadi karena sejumlah pengalaman yang saya alami dan saya nikmati tidak selamanya menyenangkan. Benar seperti apa yang dikatakan Rendra, bahwa puisi hanya bisa ditulis kalau kita punya pengalaman. Pengalaman itu dihancur-leburkan di hati dan pikiran, untuk kemudian dituliskan kembali menjadi sebuah dunia yang baru. Tentang baru dan tidaknya apa yang saya tulis ini, saya persembahkan apa adanya.

. . .
Rp. 45.000

Koesalah Soebagyo dan Toer Soesilo Toer

Rona-Rona

(kumpulan puisi)

 

Ke mana, hendak kucari

kekasih hati, jauh pergi

Hatiku merintih sayu

Datanglah dikau ke pangkuanku

Tapi mengapa, dikau tak kunjung datang

Menghibur Hatiku nan sedang rindu siang-malam

Biar daku melagu

Wajahmu bening dan bersemayam di hatiku

***
Rona-rona adalah salah satu naskah dari mendiang Koesalah Soebagyo Toer yang kami temukan dalam computer peninggalannya dan belum pernah diterbitkan. Ketika ditemukan, naskah ini masih berupa gambar hasil scan naskah asli. Setelah kami ketik ulang, kami ditambahi dengan tiga puisi lain yang berhasil kami temukan dalam proses pencarian tulisan-tulisan lama keluarga Toer, dan kami gabungkan dengan puisi dari Soesilo Toer, maka jadilah buku yang sedang Anda pegang ini. 

Pada awalnya kami hanya ingin menerbitkan buku ini khusus berisi puisi dari Pak Koesalah Soebagyo Toer, tapi karena Soesilo Toer, menurut pengakuannya sendiri, kurang menyukai puisi, sehingga hanya menulis sedikit sekali puisi layaknya sang kakak, Pramoedya Ananta Toer, setelah kami bahas soal buku ini dengan Ibu Utati, Istri mendiang Koesalah Soebagyo Toer, maka kami memutuskan untuk menggabungkan puisi keduanya. 

Penambahan puisi dari koesalah Soebagyo Toer kami ambil dari majalah Duta Suasana 1 September 1952 halaman 15 berjudul “Jembatan”, majalah Pentja 15 April 1953 No. 21 Th. III halaman 14 berjudul “Mana… Mana…” dan majalah Garuda nomor 6 thun 1953 halaman 23 berjudul “Laksana Ombak.” Sementara untuk puisi berjudul “Kerusakan” yang dimuat dalam majalah Merdeka 16 Juli 1955 halaman 16 juga termuat dalam scan gambar tertanggal 16/6/55.

Memang selama ini Koesalah Soebagyo Toer lebih dikenal sebagai penerjemah andal, tapi siapa sangka kalau ternyata beliau juga menulis kronik, memoir, cerita anak-anak, puisi, dan bahkan lagu. Dan, siapa yang menyangka pula kalau Soesilo Toer, (Termasuk Pramoedya Ananta Toer) yang tidak menyukai puisi karena, katanya, tidak mengenyangkan, ternyata juga pernah membuat puisi. Bedanya, kalau pada awalnya Pramoedya Ananta Toer tidak mau mengakui “anak rohaninya” tersebut, sementara Soesilo Toer justru tidak ingat bahwa ia pernah menulis puisi yang dimuat di majalah di mana Koesalah Soebagyo Toer menjadi redaktur. Ternyata benar-benar ada mafia di dalam dunia sastra Indonesia, dan mereka adalah keluarga Toer. Selamat Membaca!

. . .
Rp. 45.000

Edi AH Iyubenu

Saya Tidak Boleh Berbicara Sejak Bayi Demi Kebaikan-Kebaikan

 

Menulis sastra seyogianya merupakan usaha-usaha membebaskan diri. Adagium ini belakangan menguat benar di kepala saya –sampai pada detik-detik menjelma hantu. Saya yakin hantu itu ada, sebab kegaiban, keajaiban, sebutlah mistisisme, setia mendampingi kehidupan kita, tetapi bagaimana menjelaskannya secara empiris?

Saya pikir melalui medium cerita, hantu-hantu bisa dijelaskan. Dengan  syarat, saya harus membebaskan diri dari belenggu-belenggu narasi besar realisme-positivisme yang kerap membosankan dan melelahkan karena lebih sering membentur tembok-tembok.

Tetapi, saya enggan memilih surrealisme. Sebab, pikir saya, surrealime yang melembaga merupakan bentuk lain dari realisme-positivisme belaka. Bukankah ini setamsil saja dengan usaha membebaskan diri dari satu narasi untuk sekadar terbekap dalam belenggu narasi lainnya? Dalam istilah Scott Peck, seorang penganut New Age, itu serupa: “Jump from the frying pan to the fire.
Sekilas, memang amat mungkin orang akan melihat beberapa cerpen saya bergaya surrealisme. Tetapi, ijinkan saya ngotot, saya tidak menyukai surrealisme. Saya sesungguhnya semata memuja kebebasan imajinasi, keluasannya, kedalamannya, kepekatannya, lompatannya, kegilaannya, bahkan ketakterbayangkannya.

Edi AH Iyubenu

. . .
Rp. 50.000

Kuswaidi Syafi'ie

Memanjat Bukit Cahaya

(kumpulan cerpen sufistik)

 

Membaca cerpen-cerpen Kuswaidi Syafi'ie serupa dengan menyaksikan bunga-bunga taman aneka warni, yang sanggup menerbangkan imaji kita pada seraut wajah yang rupawan, yaitu Tuhan. Kita disuguhi beragam hidangan, dari yang manis sampai pahit, dari yang riang sampai rengsa, dalam bingkai tebal sufisme. Semuanya berhasil diramu dengan baik menjadi satu kesadaran, untuk : “senantiasa kujala dan kumaknai waktu yang makin tercemari dan tergerogoti perennialitas dan kefitriannya. Aku merangkum dan memusatkannya pada satu titik yang bernama kepasrahan sekaligus ketulusan terhadap Muara Agung.”
– Edi AH Iyubenu

. . .
Rp. 50.000

Ardi Wina Saputra

Aloer-Aloer Merah

 

Sepuluh kisah yang dihadirkan Ardi dalam kumpulan cerpen ini selalu menghadirkan sosok wanita sebagai pencipta peristiwa dalam setiap kisah.

Kematian merupakan topik utama yang dihadirkan oleh Ardi dalam kumpulan cerpen ini. Tidak salah bila Tengsoe Tjahjono memberikan pengantar dengan judul jalan kematian di dalam buku ini. Selain menghadirkan sosok perempuan sebagai pondasi utama, Ardi juga menghadirkan warna kematian dalam setiap kisah. Entah itu membunuh, dibunuh, ataupun bunuh diri. Para tokoh dalam cerpen seolah menunjukkan kepada pembaca bahwa kematian merupakan jalan yang tepat dan membanggakan untuk memperoleh kebebasan sejati, sebuah kemerdekaan yang hakiki.

. . .
Rp. 35.000

Edi AH Iyubenu

Ojung : Cerita Mistis Tentang Hujan

 

Sebuah cerpen di antara khazanah hidup lainnya tak perlu dipuja-puja, lantaran ia memang lahir untuk terus berada di pinggiran kehidupan, sunyi, miskin: honor kecil, sulit dimuat, tak mengangkat citra sosial. Ia hanyalah kebahagiaan individual di kedalaman batin dan spiritual pengarangnya. Karena itulah, jangan sangka si miskin penyair, cerpenis, atau novelis akan menyesali dirinya terlahir dengan takdir sebagai pengarang, kendati atas nama takdir itu jugalah ia harus selalu sedia jalan kaki, berpanas-panas, berhujan-hujan, dan bermandi keringat dengan sebatang rokok di bibir dan dompet lusuh yang cuma berisi sekian ribu rupiah (Edi Ah Iyubenu)

. . .
Rp. 60.000

Menikmati naskah lakon menjadi keasyikan sendiri; kita diberi kesempatan mengembangkan imajinasi seluas-luasnya, untuk menyusun kemungkinan-kemungkian artistik di atas panggung, hingga seperti tengah menikmati pertunjukan teater dalam kepala. Hakim Sarmin Presiden Kita akan membawa pembaca pada pengalaman seperti itu. Apalagi Agus Noor menyajikan suasana kisah yang ganjil dengan ketangkasan dialog yang cerdas dan komikal.

Ada dua kisah: “Hakim Sarmin” berlatar sebuah jaman yang dilanda wabah kegilaan dan semua hakim memilih masuk Rumah Sakit Jiwa. Kegilaan dimulai dari pikiran. Dan revolusi dimulai oleh mereka yang gila. Keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. Lalu “Presiden Kita Tercinta”, revolusi yang menumbangkan seorang presiden. Dalam kekuasaan, jujusaja tidak cukup. Kita menikmati ketegangan sekaligus kekocakan.

Agus Noor, menulis dan menyutradari banyak pementasan bersama Indonesia Kita. Mulai dari Laskar Dagelan, Nyonya-Nyonya Istana, Orde Omdo, Matinya Sang Maesto, Sinden Republik, dan puluhan kisah lainnya. Naskah-naskah lakonnya juga dipentaskan oleh Teater Gandrik. Bila Anda tak sempat menikmati pertunjukan-pertunjukan Agus Noor, inilah kesempatan menikmatinya dalam buku.

. . .
Rp. 55.000

Isbedy Stiawan ZS

Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam Ini?

 

Saya meyakini sebuah karya sastra menyimpan (mengandung) pesan. Sebuah prosa, sekalipun disembunyikan rapat-rapat, akan tetap “menguak” nilai-nilai kemanusiaan. Besar atau kecil bergantung dari masing-masing pengalaman membaca kita dan tingkat apresiasi kita. Tetapi, dalam menulis cerpen, saya bukanlah “orang tua” yang ingin menasihati pembaca. Bukan pula agamawan yang memberi wejangan. lni hanya setitik renungan.

Dalam Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam Ini? akan dltemukan cerpen cerpen dengan gaya kisah yang tak seragam. Bukan berarti saya kehilangan konsistensi. Saya menulis dengan hati–intuitif–karenanya saya serahkan penuh padanya. Saya abaikan teori di saat berkarya (menulis sastra), dan saya akan melihat karya sastra sebagai sastra. Bukan lantaran saya alergi pada teori (akademis); hal itu, tepatnya, menjadi wilayah kritikus (akademisi). (lsbedy Stiawan ZS)

. . .
Rp. 50.000

Suara KIta

Pengakuan

Kumpulan cerpen dari orang-orang yang cenderung mengalamai marginalisasi karena orientasi seksual dan ekspresi gender yang mereka mmiliki. Menarik untuk dibaca untuk membantu kita memahami perjuangan orang-orang yang dikucilkan.

. . .
Rp. 68.000

Faiza Mardzoeki

Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer

 

Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer mengangkat kisah pergulatan pikiran dan batin lima perempuan berumur 70-an sampai 83 tahun yang dulu pernah menjadi tahanan politik '65 selama lebih dari sepuluh tahun.

Mereka bertahan menghadapi hari-hari pada masa tuanya dan bergulat dengan kenangan kegembiraan dan kebanggaan akan masa mudanya. Dengan menggendong pengalaman pahit dan trauma akibat kekerasan seksual, mereka menanggung stigma yang ditempelkan oleh kekuasaan.

Ini semua menjadi tantangan seorang cucu salah satu eyang ini, baik sebagai pribadi dan keluarga maupun sebagai perempuan muda yang memikirkan realitas negerinya.

. . .
Rp. 35.000

Rampokan is a comic book by the Dutch cartoonist Peter van Dongen which consists of two parts, Rampokan Java , published in 1998 and in its French translation in 2003, andRampokan Celebes published in 2004 and in its French translation in 2005.

The title is taken from a traditional Javanese ceremony, the rampokan macan , a sort of ritual designed to exorcise the misdeeds caused by a panther or a tiger. The rampokanwas banned by the colonial authorities of the Dutch East Indies in 1905.

Rampokan belongs to the current known as the ” clear line ” ( Klare lijn in Dutch ).

Synopsis

Indonesia proclaimed independence on August 17, 1945. The Netherlands, driven out of their colony of the Dutch East Indies when the Japanese landed in 1942, do not recognize this statement and intend to recover their colony. The colonial occupation army KNIL ( Koninglijke Nederlandsch-Indisch Leger or ” Royal Netherlands Indies Army “) is not enough. The government of the Netherlands therefore decides to send a contingent of conscripts to fight those he calls “terrorists”. Among them, Johan Knevel, who was born “in India”, hopes to find the lost paradise of his childhood. He is confronted with the reality of a war where no one keeps his hands clean.

 

Born to a mother with Chinese Indonesian roots, Peter van Dongen set out to explore these roots and the stories of his family. He shared what he found in Rampokan, a graphic novel about the end of the colonial era and the changed relations between the Netherlands and Indonesia. Extensively researched and documented, and with love for Indonesian culture, Peter van Dongen has created a highlight in Dutch comic culture.
- Joost Swarte, Dutch cartoonist, graphic designer, architect and illustrator for The New Yorker

. . .
Rp. 250.000

Mohammad A. Quayum
A Rainbow Feast : New Asian Short Stories

A veritable collection of 25 short stories by young and prizewinning Asian writers from 15 countries: Japan, Taiwan, Vietnam, Laos, Malaysia, Singapore, the Philippines, Bangladesh, India, Pakistan, the UAE, Guyana, UK, USA and Australia.

The stories dwell on universal themes of human experience—social conflict, the clash of cultures, clash between tradition and modernization, loyalty, betrayal, love, horrors of war.

About the Author

Mohammad Quayum is professor of English at the International Islamic University Malaysia, and author of 20 books including Sharing Borders: Studies in Contemporary Singaporean-Malaysian Literature (Singapore National Library Board and Singapore Arts Council, 2009), One Sky, Many Horizons: Studies in Malaysian Literature in English (Marshall Cavendish Malaysia, 2007), Saul Bellow and American Transcendentalism (Peter Lang, New York, 2004) and The Merlion and the Hibiscus: Contemporary Short Stories from Singapore and Malaysia (Penguin India, 2001).

His essays on American and Postcolonial literatures have appeared in leading literary journals in the UK, the USA, Australia, Canada, South Africa, Singapore, Taiwan, India, and Malaysia. He has two books on Rabindranath Tagore forthcoming in 2011.

. . .
Rp. 130.000
Page 2 of 4: First 1 23 4 Last