Fiksi Umum

Tampilan:
Tampil:
Urut Berdasarkan:

Agus Jabo

Negeriku: Syair-syair Perjuangan

 

Ini adalah syair-syair aktivis partai. Kesadaran politik dan pengalamannya bergelut di gerakan rakyat menambah bobot kandungan syair-syairnya. Buku ini oleh penerbitnya dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan seni menjadi massal, agar kesenian bisa jadi media mengekspresikan permasalahan yang ada di sekitar kita. Syair-syair dalam buku ini merupakan gambaran kisah nyata kehidupan yang dilakoni anak-anak petani miskin dan keresahan kaum muda.

. . .
Rp. 28.000

Oscar Wilde

Pangeran Bahagia & Rumah Delima

Penerjemah: Nurul Hanafi

 

Buku ini merangkum seluruh dongeng Wilde dari kumpulan '''The Happy Prince''' (1888) dan '''A House of Pomegranates''' (1891). Diterjemah dengan berusaha mempertahankan selera bahasa yang menjadi ciri khas Wilde: penuh padanan kosakata antik, kuno, dan langka; sebagaimana ia menyebut dirinya Profesor Estetika.

. . .
Rp. 69.000

A. J. Susmana

Lelaki Bernama Karsa (Kumpulan Cerita Pendek AJ Susmana)

. . .
Rp. 25.000

Eka Kurniawan

Cinta Tak Ada Mati

 

“Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi, yang pada masa lalu merupakan ruang kosong dalam satra Indonesia. Dengan kata lain, kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan. Itulah kesan saya setelah membaca cerita-cerita di dalam buku ini.”
– Seno Gumira Ajidarma

 

Setiap cerita dalam kumpulan ini ditulis Eka dengan semangat pencanggihan yang tinggi, yang pada masa lalu merupakan ruang kosong dalam sastra Indonesia. Sekali lagi, publikasi ini tidak akan berisi sinopsis atau ringkasan karena akan menghilangkan kejutan dan membuat cerita-cerita Eka menjadi tidak asyik lagi. Membaca Eka Kurniawan dengan sempurna adalah dengan membeli bukunya dan mengalami sendiri perjalanan yang penuh teror estetik dari cerita-cerita dalam kumpulan ini.

. . .
Rp. 70.000

Fitri Nganthi Wani

Kau Berhasil Jadi Peluru

 

Kumpulan puisi ini merupakan pasangan indah bagi puisi-puisi Wiji Thukul, penyair legendaris itu. Melalui puisi-puisi Wani kita dapat merasakan bahwa Wiji tidak pernah benar-benar pergi. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan spirit, melainkan juga suasana kebatinan yang kompleks bagi orang yang dekat dengannya. Wani menemukan puisi sebagai kekasih yang sanggup membantunya memelihara spirit yang diwarisinya dan yang setia menemaninya memanggul salib hidupnya. Di sisi lain, puisi-puisi Wani merupakan testimoni dan jawaban atas apa yang pernah ditorehkannya dalam satu puisi Wiji, “Aku Ingin Jadi Peluru”. Sebuah puisi Wani bersaksi, “Kini kau harus tahu/Kau berhasil jadi peluru/Melesat pesat ke arah yang kau mau/Menembak telak di tiap sasaranmu/Namun ada yang tak kau tahu/Bahwa satu dari pelurumu itu/Telah mengoyak isi jiwaku.” — Joko Pinorbo

Di sini Wani sedang berbicara dengan bapaknya, dengan Wiji Thukul, yang kita tahu tak ada. Kita dibawa masuk dalam hubungan yang tak biasa antara anak dan bapak. Dan benar. Hanya mereka yang bisa memahami hubungan macam apa itu. Hubungan yang mengerikan saya kira, Yang membuat tak satu pun dari kita mau menjadi salah satunya: anak yang ditinggal atau bapak yang tak bisa memberi kabar lantaran dibungkam atau dihilangkan. Ya, hanya mereka berdua yang bisa memasukinya. Saya juga kehilangan bapak. Tapi tentu berbeda dengan Wani yang juga kehilangan bapak. Setiap kali saya kangen saya bisa pergi ke pusaranya. Tapi Wani? Ia harus mengirim pesan ke seluruh penjuru. Melalui surat-surat kepada pemerintah, lembaga-lembaga yang mungkin bisa membantu, kawan-kawan bapaknya, dan terakhir— mungkin yang terakhir—melalui puisi. Saya kira itulah salah satu harga dari kumpulan puisi ini.

. . .
Rp. 50.000
[SECOND-HAND]
LADANG PEMBANTAIAN: Kumpulan Cerpen Eko Darmoko
Juli 2015
 
 
Nukilan sejarah, penggalan biografi atau otobiografi, juga  etnografi, feature, bahkan fantasi dalam anggitan pengarang, bisa melampaui maknanya berkat subjektivitas yang tinggi.
 
Belasan cerpen Eko Darmoko dalam buku ini  tampil dalam kepenuhan spirit bahasa seperti itu. Bahasa adalah medan tualang, memperkaya tafsir dari bentuk-bentuk kenyataan, peristiwa, yang telanjur dilembagakan—mungkin oleh jurnalistik,  faham realisme, bahkan oleh mitos dalam pikiran manusia sendiri.
 
Eko Darmoko sangat piawai mencapai (dan kemudian mengisahkannya) puncak puncak dari  tualang nilai subjektivitasnya; kisah cinta yang menyentuh, persetubuhan  yang brutal, perdagangan orang yang menggiurkan, dongeng mistik nan fantastik, pembunuhan yang mencengangkan, religiusitas yang menggelikan dan bahkan memilukan.
 
Sebagai karya yang kaya oleh karena tradisi tualang yang bagus, moralitas cerita-cerita dalam buku ini tak cuma di sebalik kemiskinan, perempuan, korupsi atau penyakit sosial.  Moralitas bisa terbit dari sembarang suasana, tak terkecuali  dari  partitur Jim Morrison, Frederick Chopin, Bob Dylan, Janis Joplin, Rolling Stones, Kurt Cobain atau dari tabiat para pengarang dan penyair dalam tokoh ceritanya.
. . .
Rp. 55.000

TIGA SAUDARI

Anton Chekhov

Penerjemah: Trisa Triandesa

Kalabuku, Januari 2018

 

Diterjemahkan dari “Three Sisters”, sebuah lakon tentang ilusi kebahagiaan sebuah keluarga yang kehilangan patron. Salah satu dari empat lakon besar karya Anton Chekhov ini ditulis khusus untuk produksi Moscow Art Theatre (MAT). Pertunjukan perdananya pada awal 1901 digawangi oleh duo sutradara MAT: Konstantin Stanislavski dan Vladimir Nemirovich-Danchenko. “Tiga Saudari” dalam buku ini hadir dengan epilog sebuah catatan proses dari Konstantin Stanislavski, mahaguru teater Rusia dan dunia, sutradara pertama yang menggarap lakon ini. Disertai pula dengan wacana dari editor yang mencoba melacak kembali jejak penulisan lakon ini, serta penggarapannya oleh MAT. Buku ini akan diluncurkan secara resmi oleh Kalabuku pada 31 Januari 2018, untuk memperingati pentas perdana lakon ini oleh MAT pada 117 tahun lalu: 31 Januari 1901.

 

. . .
Rp. 61.000

Jean Paul Sartre

Dinding

Penerjemah: Alexandra Wrestirhin, Dwi Margo Yuwono, Rini Kusumawati

 

DI ANTARA deretan filsuf Prancis, nama Jean-Paul Sartre tentulah bukan nama yang asing. Filsuf yang juga sastrawan kelahiran Paris tahun 1905 ini terbilang produktif dalam menyumbangkan pemikirannya seputar filsafat, sosial, budaya, dan politik. Buku-bukunya menjadi rujukan terpenting para pencinta filsafat, khususnya penganut aliran eksistensialisme. Cukup lama ia menjadi pemikir paling populer di Eropa. Eksistensialismenya telah menjadi suatu gaya hidup. Bersama Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty, ia menerbitkan majalah Les Temps Moderne (Zaman Modern) yang menjadi corong filsafat eksistensialisme sekaligus suatu orientasi politik dan kultural.

Sartre juga bersimpati pada ajaran Marx, namun ia terus menerus mengritik tafsiran Marx di negara-negara komunis. Sartre termasuk orang yang mengagungkan kebebasan. Dalam pemikiran Sartre tentang kebebasan dapat kita saksikan suatu pergeseran dari kebebasan menuju ke pembebasan. Pada paruh pertama hidupnya, Sartre mendasarkan hidupnya pada faham kebebasan. Seluruh pemikirannya tentang kebebasan dijabarkan panjang lebar dalam karyanya yang berjudul L’etre et le neant (Ada dan Ketiadaan).

Karya Sartre tersebut tercatat menjadi salah satu dokumen terpenting dalam aliran eksistensialisme. Bahkan menurut Francis Jeanson, salah seorang murid Sartre, buku ini boleh dianggap sebagai une ontologie de la liberte atau suatu ontologi tentang kebebasan. Sartre memang betul-betul mendewakan kebebasan.

Menurut Sartre, manusia adalah kebebasan. Tidak cukup kalau dikatakan bahwa manusia sekadar mempunyai kehendak yang bebas. Tidak cukup pula kalau dikatakan bahwa kebebasan merupakan salah satu ciri atau sifat manusia. Manusia adalah kebebasan itu sendiri. Karena alasan itu pula manusia tak mempunyai kodrat dan esensi. Seandainya manusia mempunyai kodrat atau esensi, maka manusia tak memiliki kebebasan.

Buku ini adalah antologi cerita pendek Sartre yang banyak membicarakan kebebasan manusia dan suasana psikologis individu dalam dimensi ruang sosial dengan ide cerdas eksistensialismenya. Penghadiran suasana tersebut tampak dikisahkan dengan memikat melalui lima cerpen dalam buku ini: "Dinding", "Kamar", "Erostrate", "Kehangatan", dan "Masa Kanak-kanak Sang Direktur". Dalam cerpen berjudul “Dinding”, Sartre dengan piawai menggambarkan suasana psikologis manusia saat mengetahui dirinya segera menghadapi kematian. 

. . .
Rp. 76.000

Gunawan Maryanto

Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

 

apa yang mereka lakukan di ruang ini
benda-benda tak bergerak dari tempatnya
kata-kata berhenti di satu masa

sudahlah, kita, sama-sama tak selamat
terimalah kedatanganku
sebagaimana kau menerima kepergianku

cinta bikin kita tua dan lekas lupa
hanya berdebar sebentar di lebaran
dan mengulangnya lagi tahun depan

. . .
Rp. 50.000

Geger Riyanto

Paman Gober Jadi Pahlawan Nasional

 

Buku ini merupakan kumpulan esai sosial-politik yang saya susun pada kurun 2015-2017. Sepatutnya sebuah senarai esai, Anda tidak bisa memperlakukannya sebagai buku pemikiran yang utuh. la menghimpun respons-respons ringkas terhadap kekeruhan sosial-politik yang menyeruak dari waktu ke waktu. Dan lagi, untuk memastikan pembaca yang seluas-luasnya terpikat, saya banyak beraksi selayaknya seorang penampil; menganyam kata-kata dengan cakap, berekspresi dengan sentimental, tak jarang pula terdengar tendensius dalam prosesnya.

Namun, saya tak akan mengatakan tidak ada kesinambungan pikiran di antara esai satu dengan esai lainnya. Pada kurun ini, Indonesia menghadapi situasi yang ganjil dalam sejarahnya. Demokratisasi telah berlangsung nyaris dua dekade. Akan tetapi,  kesewenangan politik, sebuah sinyal ketimpangan kekuasaan, masih akan Anda temukan menjadi pemandangan yang wajar dan gamblang. Dinasti demi dinasti bertumbuh—tak jarang mereka dipampangkan dengan vulgar dan dipilih banyak orang dalam  pilkada-pilkada. Sumber-sumber penghidupan penting, terlepas banyaknya “pemain baru”, tetap dikuasai segelintir orang.

Dan Anda tentu tahu fakta yang satu ini: penguasa yang dikutuk di masa silam karena mengacak-acak satu negara seakan  milik satu keluarga, keluarganya sendiri, kini kembali dirindukan. – Geger Riyanto

. . .
Rp. 70.000

Simon Hate, Fajar Suharno dan Landung Simatupang

Mencari Buah Simalakama

 

Simon Hate, Fajar Suharno dan Landung Simatupang mampu menubuhkan atau mendagingkan ide-ide fundamental ke dalam kisah yang beridiom budaya tradisi (pewayangan). Pelbagai pertanyaan krusial pun menggedor kesadaran kita: humanisme versus dehumanisasi, dignity vs subordinasi, spiritualisme vs materiaisme, demokrasi-keadilan vs dominasi hegemoni dan kesetiaan vs peselingkuhan nilai, ide, emosi serta perilaku. Semua itu merefleksikan pergolakan nilai-nilai yang sangat khas dari bangsa kita yang tak pernah usai mencari karakter dan identitas diri

(Indra Tranggono, pengamat budaya)

. . .
Rp. 50.000

Faisal Oddang

Perkabungan untuk Cinta

 

Saya tidak peduli sedang membaca puisi, prosa, drama, atau nonfiksi, yang saya pedulikan adalah gagasan di dalamnya, hal itu juga terjadi ketika saya menulis. Genre bukan hal yang penting; yang penting ialah sampainya sebuah gagasan. Genre hanyalah kereta api, pesawat, sepeda, kapal laut—gagasan adalah orang-orang yang mengendarainya dan semua kendaraan tersebut akan tiba pada tujuannya. Hari ini saya ingin mengendarai kereta api karena cuaca sedang buruk, besok saya akan mencoba pesawat karena saya buru-buru dan beberapa hari kemudian saya mengayuh sepada karena hanya ingin ke komplek perumahan sebelah.

Faisal Oddang

. . .
Rp. 50.000

Anton Kurnia

Gunawan Tri Atmodjo (editor)

Buah Terlarang dan Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik

 

Para pembaca komik di setiap masa akan menganggap segenap komik yang dibacanya adalah bagian dirinya; komik yang mana pun, terjemahan maupun non-terjemahan ("asli” bahasa asing maupun Indonesia), bagian dari segenap unsur kebudayaan yang membentuk kebudayaannya. inilah yang membuat naratif ”komik Barat” (superhero, roman, dll.) begitu sahih terhayati sebagai “komik Indonesia”.

Dalam konteks inilah, seorang pecinta komik seperti Anton Kurnia mengungkapkan kecintaannya secara konsekuen: kalaupun tiada komiknya, kenangan atas komik itu pun jadi---meski secara konsekuen puIa komik yang terngiang dan termimpi dalam atmosfer kenangan itu diburu, dan komikusnya jika perlu diwawancarai. Dapat diikuti bagaimana obsesi itu setapak demi setapak telah menjadi informasi berguna, berbentuk bacaan Buah Terlarang dan CintaMorina: Catatan dari Dunia Komik ini. (Seno Gumira Ajidarma

. . .
Rp. 60.000

Anton Kurnia (Penyusun dan Penerjemah)

Maut Lebih Kejam daripada Cinta: 25 Cerita Karya Peraih Nobel Sastra

Terlepas dari beragam kontroversinya, Hadiah Nobel Sastra adalah salah satu puncak tertinggi pencapaian seorang sastrawan melalui karyanya di pentas sastra dunia. Dalam antologi ini, kita bisa menatap dari dekat puncak pencapaian para sastrawan terkemuka di berbagai belahan dunia dan zaman itu dalam bentuk prosa. Cerita-cerita di dalamnya amat beragam. Tema yang diangkat meluas dari kisah cinta kasih keluarga hingga kritik sosial budaya.

Berikut cerpenis-cerpenis dunia yang hadir dalam buku ini: Bjornstjerne Bjornson, Camilojose Cela, Rudyard Kipling, Octavio Paz, Rabindranath Tagore, Nadine Gordimer, Wladyslaw Reymont, Toni Morrison, John Galsworthy, Kenzaburo Oe, Ernest Hemingway, Jose Saramago, Albert Camus, J.M. Coetzee, John Steinbeck, Elfriede Jelinek, Jean-Paul Sartre, Harold Pinter, Miguel Angel Asturias, Orhan Pamuk, Yasunari Kawabata, Mario Vargas Llosa, Gabriel Garcia Marquez, Mo Yan, Naguib Mahfouz.

. . .
Rp. 70.000

Arafat Nur

Keajaiban Paling Hebat di Dunia: Sepilihan Puisi

 

Puisi-puisi dalam buku ini adalah upaya saya berdamai dengan diri sendiri, sekalipun sesekali kemarahan muncul dalam bentuk yang redam. Saya menekan emosi agar tidak meledak menjadi sarkas murahan yang akan mengesankan puisi-puisi ini bertindak seumpama preman pasar yang menghakimi orang-orang menyebalkan di sekelilingnya. Untuk sementara (entah kelak), tampil elegan dan bersahaja agaknya jauh lebih bagus daripada mengumbar kemarahan membabi-buta kepada setiap orang. Seumpama tarekat—yang merupakan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan—saya menjadikan puisi sebagai jalan mendekatkan diri pada hakikat hidup. Hakikat yang tidak mutlak, bukan kesimpulan akhir, bukan jawaban, tetapi memiliki makna tak terbatas. Puisi adalah jalan, bukan kesimpulan. Jejaknya menyisakan tanya di setiap kata-kata yang tak sempurna, tak berarti. Siapa pun bisa melaluinya, juga pejalan kaki.

. . .
Rp. 40.000

Reda Gaudiamo

Cecillia Hidayat (Illustrator)

Na Willa dan Rumah dalam Gang

 

Hari-hari Na Willa masih dipenuhi kegembiraan: bermain-main bersama teman-teman kecilnya, membaca buku-buku baru dari Bu Juwita, atau menyanyi di RRI.

Apalagi Pak juga mengisi hari-harinya. Pak mengantar Na Willa ke sekolah dan membelikan es krim (tanpa bilang-bilang Mak), atau mengajarinya ketak-keik di kantor, atau bersama-sama menggambari dinding rumah (barangkali hanya Na Willa yang dinding rumahnya juga digambar bapak-bapak).

Na Willa bahagia tinggal di rumah kecilnya di dalam gang. Hingga suatu hari Pak memberi kabar yang membuat dunia kecilnya terguncang.

. . .
Rp. 65.000
Page 1 of 4: 12 3 ... 4 Last