fiksi

Tampilan:
Tampil:
Urut Berdasarkan:

Albert Camus

Pengasingan dan Kerajaan

 

Pengasingan dan Kerajaan – “Pengasingan” (Exile, L’Exil), dengan menggunakan kacamata Albert Camus sebagai seorang eksistensialis, akan tampak sama dengan “Kerajaan” (Kingdom, Royaume), yaitu suatu kondisi tatkala manusia dalam keadaan merdeka dan “hidup telanjang” yang harus direbut oleh setiap insan hidup. Manusia yang dalam pengasingan senantiasa diam. Ia merebut hak untuk menolak semua hal yang tidak disetujuinya tetapi sekaligus menunjukkan kesetiaan akan pengabdian pada kebebasan.

“Pengasingan” adalah kondisi manusia yang telah berhasil merebut kedaulatannya untuk menentukan sendiri apa yang sebaiknya harus dilakukan. Hal yang sama juga tampak pada apa yang disebut “Kerajaan”.  Setiap kerajaan yang normal pasti memiliki kedaulatannya sendiri.

Cerita-cerita pendek dalam “Pengasingan dan Kerajaan” ini bercerita tentang orang-orang tertindas. Keterbungkaman mereka karena kondisi keadaan yang tidak memungkinkan lagi bagi mereka untuk berbuat apa pun, kecuali menerima keadaan.

. . .
Rp. 70.000

Agus Jabo

Negeriku: Syair-syair Perjuangan

 

Ini adalah syair-syair aktivis partai. Kesadaran politik dan pengalamannya bergelut di gerakan rakyat menambah bobot kandungan syair-syairnya. Buku ini oleh penerbitnya dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan seni menjadi massal, agar kesenian bisa jadi media mengekspresikan permasalahan yang ada di sekitar kita. Syair-syair dalam buku ini merupakan gambaran kisah nyata kehidupan yang dilakoni anak-anak petani miskin dan keresahan kaum muda.

. . .
Rp. 28.000

Oscar Wilde

Pangeran Bahagia & Rumah Delima

Penerjemah: Nurul Hanafi

 

Buku ini merangkum seluruh dongeng Wilde dari kumpulan '''The Happy Prince''' (1888) dan '''A House of Pomegranates''' (1891). Diterjemah dengan berusaha mempertahankan selera bahasa yang menjadi ciri khas Wilde: penuh padanan kosakata antik, kuno, dan langka; sebagaimana ia menyebut dirinya Profesor Estetika.

. . .
Rp. 69.000

A. J. Susmana

Lelaki Bernama Karsa (Kumpulan Cerita Pendek AJ Susmana)

. . .
Rp. 25.000

Eka Kurniawan

Cinta Tak Ada Mati

 

“Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi, yang pada masa lalu merupakan ruang kosong dalam satra Indonesia. Dengan kata lain, kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan. Itulah kesan saya setelah membaca cerita-cerita di dalam buku ini.”
– Seno Gumira Ajidarma

 

Setiap cerita dalam kumpulan ini ditulis Eka dengan semangat pencanggihan yang tinggi, yang pada masa lalu merupakan ruang kosong dalam sastra Indonesia. Sekali lagi, publikasi ini tidak akan berisi sinopsis atau ringkasan karena akan menghilangkan kejutan dan membuat cerita-cerita Eka menjadi tidak asyik lagi. Membaca Eka Kurniawan dengan sempurna adalah dengan membeli bukunya dan mengalami sendiri perjalanan yang penuh teror estetik dari cerita-cerita dalam kumpulan ini.

. . .
Rp. 70.000

Fitri Nganthi Wani

Kau Berhasil Jadi Peluru

 

Kumpulan puisi ini merupakan pasangan indah bagi puisi-puisi Wiji Thukul, penyair legendaris itu. Melalui puisi-puisi Wani kita dapat merasakan bahwa Wiji tidak pernah benar-benar pergi. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan spirit, melainkan juga suasana kebatinan yang kompleks bagi orang yang dekat dengannya. Wani menemukan puisi sebagai kekasih yang sanggup membantunya memelihara spirit yang diwarisinya dan yang setia menemaninya memanggul salib hidupnya. Di sisi lain, puisi-puisi Wani merupakan testimoni dan jawaban atas apa yang pernah ditorehkannya dalam satu puisi Wiji, “Aku Ingin Jadi Peluru”. Sebuah puisi Wani bersaksi, “Kini kau harus tahu/Kau berhasil jadi peluru/Melesat pesat ke arah yang kau mau/Menembak telak di tiap sasaranmu/Namun ada yang tak kau tahu/Bahwa satu dari pelurumu itu/Telah mengoyak isi jiwaku.” — Joko Pinorbo

Di sini Wani sedang berbicara dengan bapaknya, dengan Wiji Thukul, yang kita tahu tak ada. Kita dibawa masuk dalam hubungan yang tak biasa antara anak dan bapak. Dan benar. Hanya mereka yang bisa memahami hubungan macam apa itu. Hubungan yang mengerikan saya kira, Yang membuat tak satu pun dari kita mau menjadi salah satunya: anak yang ditinggal atau bapak yang tak bisa memberi kabar lantaran dibungkam atau dihilangkan. Ya, hanya mereka berdua yang bisa memasukinya. Saya juga kehilangan bapak. Tapi tentu berbeda dengan Wani yang juga kehilangan bapak. Setiap kali saya kangen saya bisa pergi ke pusaranya. Tapi Wani? Ia harus mengirim pesan ke seluruh penjuru. Melalui surat-surat kepada pemerintah, lembaga-lembaga yang mungkin bisa membantu, kawan-kawan bapaknya, dan terakhir— mungkin yang terakhir—melalui puisi. Saya kira itulah salah satu harga dari kumpulan puisi ini.

. . .
Rp. 50.000

Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia


Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."


Tentang Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925. Selain sebagai pengarang, bermacam profesi telah dijalani Pramoedya seperti juru ketik Kantor Berita Dome (1942-1944), wartawan majalah Sadar (1947) dab kenber "Lentera" suratkabar Bintang Timur (1962-1965), dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Res Publica (1936-1965) serta di Akademi Jurnalistik Dr. Rivai (1964-1965).
Menulis sejak di bangku sekolah dasar, hingga kini Pramoedya telah menghasilakn tidek kurang dari 35 buku, fiksi maupun nonfiksi. Karya-karyanya yang terbit pada masa Order Baru dilarang oleh pemerintah. Karya puncaknya adalah tetralogi novel sejarah yang ditulis ketika Pramoedya ditahan selama 11 tahun di Pulau Buru, yakni Bumi Manusia (1981), Anak Semua bangsa (1981), Jejak Langkah (1985) dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Sejak 1950 sedikitnya 16 penghargaan dari dalam dan luar negeri telah diraihnya, antara lain dari Balai Pustaka (1951), Ramon Magsaysay (1995), PEN International (1998), dan Kota Fukuoka-Yokatopia Foundation (2000).
Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer adalah karya kelima Pramoedya yang diterbitkan oleh KPG, setelah Mangir (2000), Kronik Revolusi 1945, Kronik Revolusi 1946 (1999), Kronik Revolusi 1947 (2001), dan Kronik Revolusi 1948 (2003), yang disusun bersama Koesalah Soebagyo Toer dan Ediati Kamil, serta Cerita dari Digul.

. . .
Rp. 132.000

Menjelang

Penulis: Ivan S. Turgenev

Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer


"Mau rasanya aku mengajakmu jalan-jalan, tapi kamu sekarang di bawah pengaruh prosa. Tidurlah, dan bermimpilah angka-angka matematik."

Turgenev adalah seorang anarkis dan nihilis seperti juga Leo Tolstoy yang digelari anarkis Katolik. Banyak pengamat menilai bahwa Turgenev adalah penulis Rusia yang paling puitis (pada abad ke-19 berdasarkan pemilihan kata) dan seorang realis yang merupakan cikal bakal lahirnya realisme sosialis ala Maxim Gorky. Sedangkan Maxim Gorky dijuluki sebagai tokoh (cermin) lahirnya Revolusi Oktober 1917.

Menjelang berbicara antara peristiwa politik dan cinta yang ganjil dan mengharu biru antar dua penganut nihilis.

Tokoh utama Menjelang, Insarov, memiliki gaya hidup nihilis seperti sang penulis sendiri. Dalam akad nikah Insarov, Turgenev melukiskan tak ada saksi, tak ada surat izin, tak ada apa-apa, kosong – nihil. Pernikahan tersebut adalah kesepakatan berdua antara Insarov dan Yelena. Setelah sah dan resmi membentuk keluarga, mereka mengembara ke mana-mana dalam usaha kembali ke tanah air Insarov – Bulgaria, yang pada waktu ada di bawah kekuasaan bangsa asing yang kejam.

. . .
Rp. 80.000

Cinta Pertama

Penulis: Maxim Gorky

Penerjemah: Ladinata

 

“Dapatkah kau rasakan betapa aku mencintaimu? Aku tidak pernah bisa mengalami begitu banyak kegembiraan, sebanyak seperti yang aku rasakan ketika denganmu. Ini sungguh benar. Percayalah! Tidak pernah aku mencintai dengan begitu penuh rasa kasih, dengan begitu penuh kelembuatan, juga dengan begitu penuh senang hati. Dengan perasaan takjub, bersamamu, aku merasa baik-baik saja…”

“Spontanitas yang Maxim Gorky perlihatkan menghajar saya sebagai sesuatu yang sangat unik.” Stefan Zweig

“Inilah karya Maxim Gorky yang banyak dipuji orang karena keindahan dan melankolitasnya. Penuh dengan data yang jarang ditemukan orang. Sebuah karya yang berkiblat pada kepincangan sosial pada umumnya.” Soesilo Toer

. . .
Rp. 60.000

Koesalah Soebagyo Toer

Adik Tentara

 

Kita sudah merdeka. Dan merdeka itu terhormat. Apa kita harus jadi orang tak terhormat lagi? Tidak mau! Saya mau jadi tentara saja kalau begini!

Sudah banyak buku ditulis tentang masa sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, baik dalam bentuk rekaman sejarah, kenangan, analisis, buku pelajaran, maupun dalam bentuk Iain—Iain lagi. Namun kiranya baru kali inilah masa sekitar Proklamasi Kemerdekaan ditampilkan ke tengah masyarakat lewat kacamata seorang anak. Sesungguhnya tidak ada revolusi yang tanpa ikut serta anak—anak, dan tidak ada revolusi di mana semua anak—anak bersikap pasif sebagai pelengkap derita belaka . Namun ironisnya, apa pun hasil revolusi itu, mau tak mau, anak—anak tetap menanggung akibatnya Oleh karena itu suara anak—anak tentang revolusi patut dan harus didengar. Buku ini memang kecil, tapi hal itu tak mengurangi artinya sebagai salah satu sarana untuk memahami, apa yang selama ini kita rujuk sebagai nilai—nilai revolusi. Dan, dengan itu pula kita mencoba memahami apa yang kita namakan cita—cita Revolusi Agustus 1945, seperti di antaranya tercermin dalam teks Proklamasi Kemerdekaan, teks Pancasila, dan teks Undang—Undang Dasar 1945.

. . .
Rp. 60.000
[SECOND-HAND]
LADANG PEMBANTAIAN: Kumpulan Cerpen Eko Darmoko
Juli 2015
 
 
Nukilan sejarah, penggalan biografi atau otobiografi, juga  etnografi, feature, bahkan fantasi dalam anggitan pengarang, bisa melampaui maknanya berkat subjektivitas yang tinggi.
 
Belasan cerpen Eko Darmoko dalam buku ini  tampil dalam kepenuhan spirit bahasa seperti itu. Bahasa adalah medan tualang, memperkaya tafsir dari bentuk-bentuk kenyataan, peristiwa, yang telanjur dilembagakan—mungkin oleh jurnalistik,  faham realisme, bahkan oleh mitos dalam pikiran manusia sendiri.
 
Eko Darmoko sangat piawai mencapai (dan kemudian mengisahkannya) puncak puncak dari  tualang nilai subjektivitasnya; kisah cinta yang menyentuh, persetubuhan  yang brutal, perdagangan orang yang menggiurkan, dongeng mistik nan fantastik, pembunuhan yang mencengangkan, religiusitas yang menggelikan dan bahkan memilukan.
 
Sebagai karya yang kaya oleh karena tradisi tualang yang bagus, moralitas cerita-cerita dalam buku ini tak cuma di sebalik kemiskinan, perempuan, korupsi atau penyakit sosial.  Moralitas bisa terbit dari sembarang suasana, tak terkecuali  dari  partitur Jim Morrison, Frederick Chopin, Bob Dylan, Janis Joplin, Rolling Stones, Kurt Cobain atau dari tabiat para pengarang dan penyair dalam tokoh ceritanya.
. . .
Rp. 55.000

Soesilo Toer

Anak Bungsu


"Cinta adalah sesuatu yang agung, dan keagungan cinta setiap orang mengartikannya sendiri-sendiri. Kalau pandangan seseorang terhadapnya lain, itu bukan berarti ia tidak benar. Cinta adalah sesuatu yang relatif. Namun ia bersemayam di mana pun juga selama manusia masih hidup. Kematian adalah akhir dari manusia, akhir dari cintanya. Karena itu peliharalah ia selama masih hidup."

Mungkin ini adalah novel terbaik karya Soesilo Toer. Ekspresif, romantis, humoris sekaligus tragis. Berisi banyak renungan kehidupan dan tentu saja CINTA..."

. . .
Rp. 65.000

TIGA SAUDARI

Anton Chekhov

Penerjemah: Trisa Triandesa

Kalabuku, Januari 2018

 

Diterjemahkan dari “Three Sisters”, sebuah lakon tentang ilusi kebahagiaan sebuah keluarga yang kehilangan patron. Salah satu dari empat lakon besar karya Anton Chekhov ini ditulis khusus untuk produksi Moscow Art Theatre (MAT). Pertunjukan perdananya pada awal 1901 digawangi oleh duo sutradara MAT: Konstantin Stanislavski dan Vladimir Nemirovich-Danchenko. “Tiga Saudari” dalam buku ini hadir dengan epilog sebuah catatan proses dari Konstantin Stanislavski, mahaguru teater Rusia dan dunia, sutradara pertama yang menggarap lakon ini. Disertai pula dengan wacana dari editor yang mencoba melacak kembali jejak penulisan lakon ini, serta penggarapannya oleh MAT. Buku ini akan diluncurkan secara resmi oleh Kalabuku pada 31 Januari 2018, untuk memperingati pentas perdana lakon ini oleh MAT pada 117 tahun lalu: 31 Januari 1901.

 

. . .
Rp. 61.000

Jean-Paul Sartre

Nausea

Penerjemah: Artika Sari

 

Dalam novel ini Sartre mengungkapkan pemikirannya tentang eksistensi melalui sosok Antoine Roquentin, lelaki penyendiri, yang berencana menulis buku tentang Marquis de Rollebon. Dalam hari-harinya yang datar, Roquentin berusaha menyusun pemikiran-pemikirannya dalam sebuah buku harian demi menemukan makna serta tujuan dari eksistensi manusia. Dengan kebiasaannya menjelajahi berbagai jalan serta mengunjungi kafe-kafe, Roquentin mengamati manusia-manusia di sekelilingnya mulai dari Anny, perempuan yang dicintainya, Lelaki Pelajar, pemilik kafe, para pengunjung kafe hingga potret-potret para tokoh pembangun Bouvile. Dalam pencariannya akan eksistensi, suatu perasaan yang dirasanya sebagai Mual terus mendatanginya. Mual itulah yang kemudian memberinya kesadaran sekaligus menjadi benang merah Sartre dalam menyadarkan para pembacanya untuk malu atas eksistensi mereka.

 

Jean-Paul Sartre lahir di Paris, Perancis 21 Juni 1905. Pada tahun 1964 ia diberi Hadiah Nobel Sastra, tapi menolaknya. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980. Ia lebih dikenal sebagai seorang filsuf eksistensialis, walau juga tidak sedikit fiksi yang ia tulis.

. . .
Rp. 85.000

Untuk Esme dengan Cinta dan Kesengsaraan

Penulis: J. D. Salinger

Penerjemah: Artika Sari dan Laila Wahyuni

Penyunting: Indra Andi Batara

 

Tentara yang trauma sepulang perang, lelaki yang sakit hati oleh penolakan, perempuan yang mengharapkan masa mudanya kembali, hingga penulis yang membuat janji, orang-orang dewasa itu terhubung dengan satu tali: anak-anak. Lewat anak-anak, tak sepunuhnya kepolosan menghiasi jiwa mereka. Lewat anak-anak pula, orang dewasa begitu aneh untuk diamati.

“Yah, mereka berenang ke sebuah lubang berisi banyak pisang di dalamnya. Mereka seperti ikan biasa ketika masuk ke lubang itu. Tapi sekali mereka masuk ke dalamnya, mereka berkelakuan seperti babi. Ah, aku tahu beberapa bananafish berenang ke sebuah lubang pisang dan makan sebanyak tujuh puluh delapan pisang. Mereka jadi sangat gemuk hingga tak bisa keluar dari lubang itu lagi. Tak bisa muat melalui pintunya.”
- Hari Yang Sempurna Bagi Bananafish

“Saya sangat tersanjung jika Anda menulis sebuah kisah secara khusus untuk saya suatu hari nanti. Saya gemar membaca.”
Aku katakan aku tentu akan melakukannya, jika aku bisa. Aku mengaku tak terlalu produktif dalam menulis.
“Saya lebih suka kisah tentang kesengsaraan.”
“Tentang apa?”
“Kesengsaraan. Saya sangat tertarik dengan kesengsaraan.”
- Demi Esme, Dengan Cinta dan Kesengsaraan

 

Jerome David Salinger adalah pengarang besar Amerika yang tak suka publisitas dan lebih memilih hidup menyendiri dari hiruk pikuk dunia sastra. Novelnya yang paling terkenal adalah 'The Catcher in the Rye' yang berkisah tentang kegalauan seorang remaja bernama Holden Caufield yang baru saja dikeluarkan dari sekolahnya. Pembunuh John Lennon, Mark David Chapman, mengaku terpengaruh novel ini hingga menembak tokoh idolanya itu.

Salinger selalu berhasil membuat pembaca bertanya-tanya sepanjang cerita yang dikisahkannya, bahkan setelah selesai membacanya, la sadar bahwa anak kecil tak selalu kekanak-kanakan dan orang dewasa tak selalu matang. Kita dapat menemukan hal ini dalam dua kisah yang ada di buku ini. Salah satunya adalah 'Hari Yang Sempurna Bagi Bananafish', cerpen yang menjadi salah satu masterpiece Salinger yang terus dibicarakan dan diperdebatkan maknanya hingga kini.

. . .
Rp. 75.000

Milan Kundera

Penerjemah: Fathia I Syarif

The Unbearable Lightness of Being

 

Novel Unbearable Lightness of Being adalah salah satu novel terkenal Milan Kundera,novelis Perancis kelahiran Ceko. Novel ini ditulis tahun 1992,tetapi baru diterbitkan tahun 1984 dalam bahasa Perancis . Sementara dalam bahsa aslinya terbit setahun kemudian

Novel ini berlatar belakang Praha akhir 1960-an dan awal 1970an, ketika terjadi invansi dan pendudukan Rusia komunis. Tokoh-tokohnya dalam para seniman dan intelektual Praha masa-masa tersebut, seperti Tomas, tokoh utama novel inmi,adalah seorang ahli bedah terkenal. Ia mempunyai istri,Tereza, seorang mantan bartender yang kemudian menjadi fotografer. Ia sangat mencintai Tereza, tetapi ia juga mempunyai banyak selingkuhan . di antaranya Sabina, seorang pelukis yang anti kitsh. Lalu Franz, seorang yang tergila-gila pada Sabina, dan seterusnya.

Hubungan-hubungan perkawanan, percintaan, perselingkuhan menjadi alur cerita ini. Namun ia menjadi menarik,menantang rumit,karena masuknya urusan politik di dalamnya. Tomas, bermasalah karena dulu ia pernah menulis esai antikomunis dan bersikeras tak mencabutnya. Tereza sebagai fotografer bay\nyak membuat foto-foto pendudukan yang tak disenangi rezim. Sabina selalu melawan pengaruh keluarganya yang turun menurun pendukung Partai Komunis. Lalu Franz seorang professor yang hidupnya hanya dihabiskan dengan membaca buku dan urusan akademis, lalu mencari penghiburan dengan dengan terlibat dengan berbagai protes dan demonstrasi. Dan seekor anjing yang dinamai Karenin, yang diambil dari nama suami Anne Karenina.

Dengan demikian, ceritapun dipilin dengan soal pelarian,persembunyian, perlawanan, pengawasan politik, pengejaran, pengkhianatan dan lain-lain.

"Kundera sungguh seorang virtuoso..." - Vanity Fair
"Sebuah meditasi tentang hidup, erotika dan hakikat cinta..." People Magazine

Pertemuan itu hanya singkat saja. Tidak lebih sejam lamanya. Namun entah kenapa itu sudah cukup membuat Tereza berani memutuskan untuk mengunjungi Tomas. Dan anehnya Tomas tak sanggup untuk menolaknya. Lelaki playboy itu merasa seolah kehadiran gadis innocent itu sudah menjadi takdirnya, seperti putri Pharaoh di tepi sungai yang kedatangan bayi kecil Musa.

Namun hubungan mereka sama sekali tidak mulus. Dengan segerat Tereza dihantui oleh perilaku Tomas yang senang menjalin affair dengan banyak wanita. Guncangan pun melanda hidup mereka, di tengah kekacauan politik yang tengah melinqkupi Praha. Inilah novel tentang pergulatan cinta dan petualangan jiwa, yang serius sekaligus jenaka, dan tentu saja, sangat menggairahkan siapa pun yang membacanya.

. . .
Rp. 100.000
Page 1 of 10: 12 3 ... 10 Last