humaniora

Tampilan:
Tampil:
Urut Berdasarkan:

Hatib Abdul Kadir Olong

Tato

 

Tattoos are merely another physical form of expression.  A way to say something intimately with your body
 

. . .
Rp. 78.000

Abdurrahman Wahid

Tuhan Tidak Perlu Dibela 

 

"Buku ini merupakan kumpulan dari kolom-kolom Gus Dur yang dimuat (alm) Majalah Tempo lama, pada kurun waktu 1970-an dan 1980-an. Kolom-kolom tersebut mewakili suatu fase dari kehidupan Gus Dur, yakni fase murni intelektual. Dari sini, dapat pula dilihat betapa luas spektrum yang menjadi concern Gus Dur. Tapi, yang paling kental dari kesemua itu adalah inklusivitas keislaman Gus Dur dan kepeduliannya terhadap pengembangan demokrasi di Indonesia." 

 

. . .
Rp. 75.000

Abdurrahman Wahid

Prisma Pemikiran Gus Dur 

 

Buku ini memperkenalkan pemikiran-pemikiran lama Gus Dur mengenai hubungan agama dan ideologi, negara dan gerakan keagamaan, hak asasi manusia, budaya dan integrasi nasional, pesantren dan lain-lainnya.

. . .
Rp. 60.000

Nengah Bawa Atmadja, Nanatawikrama Tungga Atmadja, Tuty Maryati

Bali Pulau Banten : Perspektif Sosiologi Komodifikasi Agama

Buku ini berangkat dari berbagai pertanyaan mengapa orang Bali melakukan komodifikasi terhadap banten dan uparengga yang digunakan dalam ritual agama Hindu? Apakah dalam komodifikasi ini ada aspek-aspek ideologi global ikut mewarnainya? Bagaimana sistem produksi banten dan uparengga sebagai komoditas pada masyarakat Bali? Bagaimana sistem pemasarannya? Apakah dalam sistem produksi dan pemasaran banten dan uparengga melibatkan hubungan yang bersifat ideologi, berdimensi kuasa atau bertalian pula dengan kepentingan, bahkan bisa juga hasrat yang melekat pada berbagai hal yang terlibat di dalamnya?
 

. . .
Rp. 80.000
Telah terbit jurnal pertama Bakudapan Food Study Group “Fast and Foodrious“. Jurnal yang berisi 196 halaman ini memuat catatan proses dan hasil penelitian kami mengenai fenomena fast food di Yogyakarta. Melalui berbagai proses, kami kemudian merangkumnya dalam tulisan, visual dan kesenangan kami lewat terbitan ini.
- Bakudapan Food Study Group

 

. . .
Rp. 360.000

Judul: Surat-Surat kepada Seorang Novelis Muda
karya : Mario Vargas Llosa
Penerjemah : An Ismanto
 

"Bukan hanya sekadar buku untuk penulis, melainkan juga untuk pembaca... Dan bagi mereka yang ingin melakukan lebih dari sekadar membaca, buku ini akan mengajari, menerangi, dan yang paling penting menginspirasi." --St. Petersburg Times

Dengan mengambil contoh dari cerita pendek dan novel karya para penulis di seluruh dunia, mulai dari Borges, Bierce, Celine hingga Kafka, Mario Vargas Llosa memperlihatkan struktur dan cara kerja dalam karya para penulis besar itu. Sehingga, kedua belas "surat" ini menjadi semacam buku petunjuk esensial bagi para novelis baru tentang aspek-aspek formal karya fiksi, mulai dari plot, daya membujuk, dan latar hingga ketegangan.

Namun, Llosa melakukannya sedemikian rupa untuk tetap mendorong para novelis baru itu agar tidak kehilangan sentuhan dengan dorongan untuk mencipta. Karena itu, ia mewanti-wanti: "Pekerjaan literer itu bukan sebuah hobi, olahraga, atau aktivitas waktu senggang yang menyenangkan. Ini adalah sebuah kesibukan yang mencakup semuanya dan mengusir semuanya, sebuah prioritas yang mendesak, sebuah penghambaan diri yang dipilih secara bebas dan mengubah korbannya (korbannya yang beruntung) menjadi budak".

 

. . .
Rp. 75.000

Judul: Memancing (Sepilihan Karya Jurnalistik Ernest Hemingway)
karya : Ernest Hemingway
Penerjemah : An Ismanto
 

Saat tidak menulis novel, Ernest Hemingway mengisi waktu dengan petualangan. Ia berburu hewan berukuran besar di Afrika, adu banteng di Spanyol, dan memancing di laut dalam di sekitar Florida dan Kuba.

Buku ini adalah kumpulan laporan tentang salah satu hobinya, yaitu pengalaman memancing di beberapa tempat di dunia, mulai dari pedalaman Kanada di Amerika dan pedesaan Austria di Eropa hingga perairan laut dalam di sekitar Kuba.

Walaupun ditulis sebagai laporan jurnalistik, pembaca dapat merasakan gaya bahasa efektif dan efisien yang biasa dijumpai dalam karya-karya prosa fiksi Hemingway.

 

. . .
Rp. 55.000

V.S. Naipaul

Indonesia di Mata Naipaul

Antara tahun 1979-1980 V.S.Naipaul mengunjungi negara-negara yang masyarakat-masyarakatnya mayoritas telah "berpindah keyakinan" mengimani Islam. Alih-alih mengunjungi negara-negara di jazirah Arab yang, menurut peraih Nobel Sastra 2001 ini, sumber as(a)li agama tersebut, Naipaul justru lebih tertarik memulai perjalanannya dari Iran, lalu ke Pakistan, kemudian ke Malaysia, dan mengakhirinya di Indonesia (dengan mampir lagi sebentar di Pakistan dan Iran dalam perjalanan kembalinya ke Inggris).

Catatan perjalanan ini, yang setelah diterbitkan sempat menjadi buku kontroversial, merekam masa ketika gairah keislaman di negara-negara yang dikunjunginya sedang berkobar, disulut oleh kemenangan "Revolusi Islam" Iran yang makin memanas ketika kedutaan besar AS di sana diserbu massa, perlombaan nuklir Pakistan dengan India, mengerasnya gerakan pemurnian Islam yang berkelindan dengan keterancaman rezim di Malaysia. Tidak bisa dihindari, "wabah Malaysia' itu pula yang dikhawirkan oleh penguasa Orde Baru dan para teknokrat- priayi-adatsekuler yang tetap berjarak dengan kaum agamawan yang mulai menempa diri dengan militansi baru.

. . .
Rp. 65.000

Percakapan Dengan Semesta
Nirwan Arsuka

Kritik dan eksperimentasi adalah tulang punggung, lebih tepat lagi: nyawa dari ilmu pengetahuan. Dengan kritik, ilmu mengoreksi penalarannya, menyadari sekaligus memperluas batas-batas teorinya. Dengan eksperimentasi, ilmu bertanya jawab denga alam semesta tentang hakekat-hakekatnya.

Gabungan antara kritik, eksperimen dan kenyataan semesta yang terbuka bagi pemahaman akal manusia (intelligibility), membuat pengetahuan ilmiah tak mengenal istilah "pelecehan ilmu" atau "penistaan sains".

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Kita memang tak ingat lagi kapan persisnya percakapan dengan semesta itu dimulai. Yang kita tahu, percakapan itu berhubungan langsung dengan evolusi dan dorongan untuk bertahan hidup di tengah lingkungan yang kompleks, dengan sumber daya yang kadang melimpah kadang kering kerontang. Percakapan itu jelas sudah berdenyut ketika leluhur kita mulai memimpikan dan menggambar makhluk lain di dinding padas, ketika mereka mulai bisa berdiri tegak mendongak, menerawang bintang saat makhluk-makhluk lain hanya bisa merunduk-runduk, bahkan melata menyusuri lendir-lendir prasejarah.
—Nirwan Ahmad Arsuka

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Merupakan buku yang terdiri dari 3 esai panjang Nirwan Ahmad Arsuka. Kita akan langsung disuguhi pidato kebudayaan Arsuka di Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015 yang sekaligus menjadi judul dari buku ini: Percakapan Dengan Semesta. Dilanjutkan dengan esai yang membahas fotografi dalam Susan Sontag; Citra-Waktu. Untuk kemudian ditutup dengan risalah perfilman pada Pedang Dan Dunia; "Hero" Episode 2.

. . .
Rp. 60.000

Dandhy Dwi Laksono Jurnalisme Investigasi : Tips dan Pengalaman Para Wartawan Indonesia Membuat Liputan Investigasi di Media Cetak, Radio, dan Televisi

Konon, investigasi itu seperti seks. Sebagian orang lebih suka langsung mempraktikkannya daripada berlama-lama membicarakan teorinya. Buku ini tak membuang-buang waktu membahas definisi ”jurnalisme investigasi” dengan mengutip berbagai literatur, melainkan langsung mengupas tuntas teknik-teknik membuat liputan investigasi: bagaimana menyamar atau memburu narasumber kasus-kasus berat, seperti pembunuhan aktivis HAM, kasus pembalakan hutan, dan banyak lagi.

Contoh-contoh kasusnya diambil dari pengalaman para wartawan Indonesia sehingga pembaca tidak merasa berjarak dibandingkan bila contoh yang dipaparkan adalah pengalaman wartawan-wartawan asing (seperti pada banyak buku tentang jurnalisme investigasi lain).

Di Indonesia, liputan Jurnalisme Investigasi (JI) lebih banyak muncul sebagai sesuatu yang sporadis, dilakukan hanya sewaktu-waktu, karena dipicu kemunculan sebuah peristiwa. Faktor penyebabnya banyak: ”vested interest” pemilik media, kurangnya sumber dana, ketidaktahuan mengenai pentingnya dan strategisnya JI dalam sebuah negara demokratis, hingga lemahnya kemampuan teknis para awak media. Jika penyebabnya adalah faktor yang disebutkan terakhir, buku yang ditulis Jurnalis Terbaik Jakarta (2008) untuk liputan investigasi Pembunuhan Munir dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini, adalah obat penawarnya

----------------------------------------------------------

"Penulis meracik pengalaman dan aneka tips para rekan wartawan di berbagai media elektronik maupun cetak, menjadikan buku ini kaya akan perspektif. Ditulis dengan gaya ringan dan banyak kisah seru bak novel detektif."

- Najwa Shihab -

. . .
Rp. 100.000
-10%  studi agama di indonesia
. . .
Rp. 35.000Rp. 31.500

A Renewal Without Breaking Traditional

. . .
Rp. 55.000
Page 2 of 2: First 1 2